LokasiAduBanteng.com

Permainan Adu Banteng Online Terpopuler Di Kota Sevilla

Permainan Adu Banteng Online Terpopuler Di Kota Sevilla

Permainan Adu Banteng Online Terpopuler Di Kota Sevilla Sevilla bukan hanya terkenal dengan olahraga sepak bolanya saja, namun kota Sevilla juga terkenal dengan pariwisatanya yang sangat indah dan menakjubkan. Salah satu tempat pariwisata terindah di kota Sevilla adalah Adu Banteng, adu banteng Sevilla ini juga bisa kita mainkan dan saksikan secara online.

Adu banteng adalah pertarungan antara manusia dan banteng yang juga merupakan sebuah pertunjukan tradisional di Spanyol, Portugal, selatan Perancis dan beberapa negara di Amerika Latin.

Pertunjukan ini sangat kontroversial karena banyak orang berpendapat bahwa pertarungan antara banteng dan matador profesional ini sangat tidak bermoral, bahkan sudah dilarang di beberapa negara. Namun sebagian lain menganggap bahwa pertunjukan ini adalah bagian dari seni. Dari semua negara tersebut di atas, Spanyol-lah yang paling terkenal masih melakukan pertunjukan judi adu banteng.

Kami berkesempatan berkunjung ke Andalusia pada musim gugur sekitar bulan April di tahun 2017. Andalusia adalah daerah di selatan Spanyol yang terdiri dari beberapa kota dan merupakan wilayah otonomi dengan ibu kota Seville atau Sevilla. Kota yang disebut sebagai The Heart of Andalusia ini telah berumur sekitar 3000 tahun.

La Maestranza di Seville merupakan plaza de toros atau tempat adu banteng yang terbesar kedua setelah Plaza Mexico di Mexico City. La Maestranza telah digunakan sebagai tempat adu banteng sejak tahun 1765.

Ketika kecil, saya selalu berpikir bahwa jadi matador itu keren, cool, macho! Ketika sampai di Seville, yang terbersit di benak kami selain menikmati pemandangan kota dengan gedung dan istananya, serta tapas dan cafe-nya adalah menonton adu banteng.

Sesampainya kami di salah satu plaza de toros, kami membeli tiket untuk pertunjukan esok hari. Senang sekali rasanya bisa melihat pertunjukan ini secara live, karena waktu kecil hanya bisa lihat sekejap lewat berita internasional di acara dunia dalam berita.

Keesokan harinya, kami sampai lebih awal untuk melihat keadaan kota sebelum pertunjukan dimulai. Wow, ramai sekali pengunjung lokal dan turis yang ingin menonton adu banteng online ini. Banyak dari mereka, khususnya penduduk lokal, membeli bantal kecil yang dijual di sekeliling plaza. Ternyata bantal-bantal ini digunakan untuk alas duduk ketika menonton pertunjukan. Mereka juga membawa bunga dan berpakaian rapi layaknya hendak menonton pertunjukan teater di gedung kesenian.

Penonton beramai-ramai memasuki plaza. Terdengar riuh tepukan, suitan, dan teriakan kemeriahan. Namun sejenak semua terbius oleh bunyi terompet tanda babak pertama akan akan segera dimulai.

Para partisipan memasuki arena dengan memakai pakaian tradisional Andalusia yang telah dilestarikan sejak abad ke-17. Mereka terdiri dari tiga matador. Setiap matador mempunyai dua picadores (penunggang kuda), tiga banderilleros (pembawa bendera) dan satu sword page (asisten matador pembawa pedang).

Para matador adalah bintang dari pertunjukan ini. Mereka memakai pakaian dengan sentuhan keemasan, traje de luces (suit of lights) sebutannya. Tiap dari mereka akan bertarung dengan dua banteng. Mereka bertarung dengan gerakan-gerakan seperti menari untuk menghibur penonton.

Babak kedua adalah saatnya banteng memasuki arena diiringi oleh kibaran bendera yang dibawa oleh para banderilleros. Para matador dan banderilleros bergantian berlagak menari dengan para banteng. Ini dilakukan untuk melihat kecepatan banteng bereaksi terhadap permainan matador. Sebenarnya, banteng itu buta warna. Mereka tidak bereaksi akan kain capote berwarna merah magenta yang dilibas-libaskan, namun karena gerakan dan aksi yang dilakukan matador.

Babak selanjutnya, picadores para penunggang kuda memasuki arena. Pada babak ini, picadores akan menusuk leher banteng tepat pada otot yang membuat banteng lemah seketika.

Kemudian dilanjutkan dengan tancapan tongkat bendera pada bahu banteng oleh para banderillas. Serangan bertubi-tubi ini membuat banteng benar-benar lelah dan lemah untuk melawan. Sangat menyedihkan.

Babak terakhir, matador kembali memasuki arena dengan tongkat merah dan pedang. Perasaan saya mulai tidak enak. Benar saja, ternyata pedang tersebut digunakan untuk menusuk tengkuk banteng hingga terhuyung-huyung dan jatuh tak berdaya. Belum selesai ternyata penderitaan binatang lemah ini. Ia lalu diseret keliling lapangan. Penonton bertepuk tangan dengan hebohnya tanda puas atas pertunjukan tersebut.

Kami betul-betul ternganga. Bukan karena rasa kagum, namun rasa tak percaya akan apa yang baru kami lihat. Banyak dari adegan di arena yang sangat menyedihkan untuk dilihat. Mungkin hanya kami yang keluar dari plaza dengan lunglai tak berkata-kata.